Lily Upartini 'Si Hitam'

Bisa jadi seorang ibu. Bisa jadi seorang musuh. Bisa jadi seorang pemangku.

Segalanya.

Bukan kemenderitaan yang menyebabkan dia pergi bersama-sama hatinya yang gelisah dan gulana. Dia merupakan orang paling tegar yang bisa mengalahkan ketegaran sebuah dinding batu jika dia tengah bersemangat. Namun dia merupakan orang paling menyedihkan yang mampu menyaingi kelemahan seekor cacing yang merangkak di ubin panas sekalipun.

Dia bisa menjadi segala macam orang. Karena dia sendiri mengaku bahwa dia bukannya orang yang mengaku tidak munafik.

Dia seorang pendurhaka, mendurhakai siapa saja yang telah berbaik hati kepadanya dalam hal apa saja, bahkan dalam kejahatan. Dia seringkali meradang. Menangisi hal-hal yang pernah dia lakukan dan tidak pernah dia lakukan. Kadang kali dia menyesali, kadang kali dia memuji. Dirinya sendiri. Yang selalu dipenuhi kejumawaan dan tawa-tawa liar yang tak pernah lepas dari pendengarannya, dia gila.


Baginya, dia lah satu-satunya bukan orang gila di dunia yang gila. Dia sewaras ikan yang mulai kehilangan airnya, sewaras cacing yang mulai kehilangan gemburnya, sewaras burung yang mulai kehilangan sarangnya.

Dia selalu bertanya-tanya, kenapa ia mencipta? Tak cukupkah teman-temannya yang baik hati? Tak cukupkah orang-orang tuanya yang mengasihi? Tak cukupkah tetangga-tetangganya yang menyakiti? Dia selalu diselimuti pertanyaan dan masa lalu serta khayalan-khayalan yang seharusnya telah dia bayangkan sejak dulu.

Bisa jadi seorang pengkhianat.

0 kritik tentang naskah:

Posting Komentar