Tampilkan postingan dengan label hikayat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikayat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Agustus 2017

Palembang dalam Dunia Kesusasteraan Melayu Klasik

Kota Palembang disebut di dalam hikayat Sulalatus Salatin. Bukit Si Guntang dikisahkan menjadi tempat turunnya tiga anak Raja Suran keturunan Iskandar Zulkarnain dari sebuah negeri di dalam laut. Tiga anak Raja Suran ini bernama Nila Pahlawan, Krisyna Pandita, dan Nila Utama yang konon merupakan nenek moyang orang Melayu. Berdasarkan hikayat Sulalatus Salatin, Nila Pahlawan diangkat anak oleh Demang Lebar Daun, diminta oleh Patih Suatang dan diangkatlah ia menjadi raja di Minangkabau. Krisyna Pandita juga menjadi raja di Tanjung Pura, sedangkan Nila Utama yang masih berada di Palembang dirawat oleh Demang Lebar Daun dan menjadi raja yang bergelar Sri Tri Buana.

Menurut kesejarahan perkembangan sastra Melayu di Palembang, ada dugaan bahwa munculnya tradisi kesusasteraan di Palembang telah muncul sebelum masa Islam (abad ke-15 M), namun sejauh menyangkut kesusastreaannya, Palembang mengalami masa keemasannya setelah Islam datang (Mu’jizah dan Fathurrahman, 2008:95). Palembang merupakan salah satu pusat tumbuh suburnya berbagai pengetahuan keislaman di Dunia Melayu-Indonesia, baik yang berkaitan dengan sastra maupun agama. Beberapa naskah keagamaan banyak menyebutkan asal-usulnya berasal dari wilayah Palembang, baik ditulis maupun hanya diterjemahkan di Palembang. Umumnya berbagai karangan dan terjemahan yang dijumpai tersebut berasal dari periode pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19.

Pada awal abad ke-17, Kesultanan Palembang memberikan minat khusus pada bidang keagamaan dan hal ini mendorong tumbuhnya pengetahuan dan iklim keilmuan sehingga menjadi faktor penyebab mengaa Palembang menjadi salah satu pusat kebudayaan Islam di dunia Melayu (Azra via Mu’jizah, 2008:96). Para Sultan Palembang banyak menjadikan tokoh-tokoh agama sebagai patron keilmuan mereka dan menjadi sebuah gejala umum yang bisa terjadi sehingga pada gilirannya para Sultan yang berkuasa tersebut memberikan kontribusi atas terciptanya atmosfir keilmuan di wilayah Palembang. Antara abad ke-18 dan 19, Palembang telah melahirkan sejumlah ulama penting yang dalam hal penulisan naskah-naskah dan kitab-kitab keagamaan tergolong produktif di zamannya, seperti Syihabuddin bin Abdullah Muhammad, Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Kemas Fakhruddin, dan Muhammad Ma’ruf bin Abdullah Khatib Palembang. Selain itu ada pula Syaikh Abdussamad al-Palimbani yang cukup berpengaruh dengan karyanya antara lain Ratib Samman, Zuhrat al-Murid fi Bayan Kalimat at-Tauhid, Hidayat as-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin, Sair as-Solikin ila ‘Ibadat Rabb al-Alamin, Tuhfat ar-Ragibin, dan Zad al-Muttawin fi at-Tauhid Rabb al-Alamin (Liaw Yock Fang, 2011:420—424). Pengembangan keilmuan dimana ulama menjadi patron para sultan ini terjadi pada masa Kemas Fakhruddin yang menjadi ulama istana pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najmuddin hingga tahun 1774 dan berlanjut pada masa Sultan Muhammad Bahauddin (1774—1804). Selain itu, faktor yang melatarbelakangi munculnya tradisi penulisan kitab-kitab keagamaan di Palembang adalah karena adanya kontak intelektual dan menjadi transmisi keilmuan yang terjadi antara para ulama Melayu-Indonesia dan para ulama di pusat dunia Islam, khususnya Makkah dan Haramayn, Madinah.

Selain menghasilkan kitab-kitab keagamaan, tradisi kesusasteraan di Palembang juga menghasilkan sejumlah genre sastra lain, seperti karya-karya kesejarahan, hikayat, syair, prosa, dan pantun. Adapun sastrawan yang dikenal dari Palembang antara lain, Ahmad bin Abdullah, Sultan Mahmud Badaruddin, dan Pangeran Panembahan Bupati (Iskandar via Mu’jizah, 2008:98). Beberapa karya yang telah diindentifikasi adalah Hikayat Palembang (Kiai Rangga Sayandita Ahmad bin Kiai Ngabehi Mastung), Silsilah Raja-Raja di dalam Negeri Palembang (Demang Muhyiddin), Cerita Negeri Palembang, Cerita daripada Aturan Raja-Raja di dalam Negeri Palembang, Hikayat Mahmud Badaruddin (Pangeran Tumenggung Kartamenggala), Syair Perang Menteng, Syair Melayu, Syair Residen de Brauw, Hikayat Dewa Raja Agus Melila, Hikayat Raja Babi, dan Hikayat Raja Budak. Adapun naskah-naskah tersebut kebanyakan disimpan sebagai koleksi Perpustakaan Nasional, Jakarta.

REFERENSI

Ahmad, A. Samad. 1979. Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pelajaran Malaysia.
Liaw Yock Fang. 2011. Sejarah Kesusasteraan Melayu Klasik. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Mu’Jizah dan Oman Fathurahman. 2008. “Tempat-Tempat Perkembangan Sastra Melayu: Palembang”. Dalam Sastra Melayu Lintas Daerah. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Minggu, 27 September 2015

Hikayat Hang Tuah (Jilid I)

Berikut ini merupakan ringkasan cerita dari Hikayat Hang Tuah Jilid I yang saya ambil dari terjemahan Hikayat Hang Tuah yang dilakukan oleh Muhammad Haji Salleh (2013). Hikayat Hang Tuah ini merupakan kisah petualangan pahlawan Nusantara yang diceritakan secara sastrawi nan heroik. Seperti judulnya, hikayat ini memiliki tokoh utama yang bernama Hang Tuah, seorang pahlawan budaya yang tidak tertandingi dan telah menjadi teladan sosial dan moral bagi penduduk Melayu, Malaysia, Indonesia, Singapura, Thailand (selatan), dan Brunei selama berabad-abad lamanya. Hang Tuah menjadi lambang dari pengorbanan diri, pencapaian, patriotisme, dan lambang kelangsungan hidup masyarakat, baik generasi muda, maupun generasi tua.


.::Selamat membaca::.


Pada permulaan kisah, hikayat ini menelusuri asal usul dinasti kerajaan Palembang hingga ke raja-raja langit, yang merupakan asal silsilah para raja Melayu yang biasanya seringkali ditemukan pada cerita-cerita sastra klasik.


Kisah ini kemudian berlanjut pada pernikahan keturunan raja keinderaan—negeri surga—yang bernama Sang Sapurba dengan putri bumi yang cantik jelita dan merupakan putri seorang raja yang agung, Ratna Kemala Pelinggam—yang putra mereka kemudian menikahi gadis yang lahir dari muntahan sapi suci. Mereka lalu dinobatkan menjadi raja dan ratu Bukit Seguntang, dan anak-anak mereka ditakdirkan menjadi raja-raja di Kepulauan Melayu. Setelah menobatkan dirinya sendiri sebagai seorang raja di Bukit Seguntang (Palembang), salah satu putra mereka menjadi Raja Bintan—sebuah pulau yang berada di timur Kepulauan Riau.


Hang Mahmud dan Dang Merdu—orang tua Hang Tuah—tinggal di Sungai Duyung—yang kemungkinan berada di Pulau Lingga, sebelah selatan Kepulauan Riau. Menjelang anak mereka lahir, Hang Mahmud bermimpi tentang sinar bulan yang lembut menerangi anaknya itu. Didorong oleh pertanda ini, mereka lalu pindah ke Bintan, dimana terdapat kerajaan yang telah mapan, dan Hang Mahmud menganggap akan lebih mudah mencari nafkah di tempat itu.


Dari tempat itulah, ketika Hang Tuah berusia sepuluh tahun, dia bersama keempat temannya yaitu Jebat, Kasturi, Lekir, dan Lekiu, berlayar dengan sampan kecil menuju utara Singapura. Selama perjalanan, mereka dikejar oleh bajak laut. Namun, dengan menggunakan strategi yang cerdik, mereka mampu mengalahkan bajak laut tersebut. Pada kesempatan yang lain, Hang Tuah membunuh seorang pengacau, dan kemudian bersama sahabatnya, mereka membunuh empat orang pengacau lainnya yang berniat mencelakai Bendahara (Wazir atau Perdana Menteri). Kabar mengenai dua perbuatan berani itu lalu sampailah ke telinga Sultan yang baru dan meminta Bendahara untuk menjadikan kelimanya sebagai pesuruh di istananya.


Kelima sahabat itu datang ke kerajaan ketika kerajaan masih dalam kondisi berjuang untuk membangun istana dan kerajaan yang stabil, dan melakukan perdagangan dengan kerajaan lain untuk meningkatkan ekonomi kerajaan.


Dengan ditemani oleh keempat temannya, Tuah belajar seni bela diri dan ilmu sihir kepada Aria Putra, seorang guru terkenal.


Tuah digambarkan sebagai seorang pemuda cakap yang menguasai dua belas bahasa diusianya yang masih sangat muda—hal ini karena penulis hikayat mempersiapkan dia sebagai pahlawan dari negara maritim yang letaknya strategis dalam perdagangan internasional yang jalurnya melalui Selat Malaka.


Karena Raja sedang mencari tempat yang lebih strategis untuk kerajaan di semenanjung tersebut, maka dikirimlah sebuah ekspedisi. Ekspedisi itu kemudian menemukan tempat yang baik, dimana seekor kancil dengan beraninya menyerang dan mengalahkan seekor anjing pemburu di dekat sebuah pohon ‘Malaka’. Istana dan benteng kemudian dibangun mengelilingi pulau. Dan karena lokasinya bagus, Malaka dengan cepat berkembang menjadi kerajaan dan pelabuhan yang maju pesat.


Kini Hang Tuah telah menjadi seorang pemuda kesayangan Sultan. Ia pun dikirim ke Majapahit—yang merupakan kerajaan terhebat di Asia Tenggara pada saat itu—sebagai wakil Sultan untuk menikahi putri Betara yang bernama Raden Galuh Cendera Kirana. Keberanian, kedisiplinan, dan kesantunan Hang Tuah dalam pergaulan kemudian diuji, dan dia berhasil melewati semua ujian tersebut dengan sangat baik. Ketika dia kembali lagi ke Majapahit untuk mengawal Raja guna melakukan upacara pernikahan, tantangan yang dihadapinya justru menjadi lebih berat dan sulit untuk ditaklukan. Dia dan para sahabatnya diserang oleh para pengacau yang memperdaya mereka dengan berbagai macam cara. Namun Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya menang.


Ditengah hingar-bingar dan kegembiraan pesta pernikahan, Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya melarikan diri ke pegunungan untuk belajar dengan Sang Persata Nala, yang sangat terkenal kemampuan seni bela diri dan sihirnya.


Selama perjalanan menuju Majapahit ini, Hang Tuah juga mampu mengalahkan seorang kesatria pengembara bernama Taming Sari—yang diutus oleh Patih Gadjah Mada untuk membunuhnya—dan pada akhirnya Betara memberikan keris sakti Taming Sari kepada Hang Tuah.


Ketika mereka kembali ke Malaka, para pembesar kerajaan yang iri—karena Hang Tuah menjadi kesayangan Raja—di kerajaan merencanakan sesuatu. Dikepalai oleh Patih Kerma Wijaya—menteri yang diasingkan dari Lasem di Jawa—para pembesar itu melaporkan kepada Raja bahwa mereka telah melihat Hang Tuah berbicara dengan selir kesayangan Raja. Nuansa perselingkuhan di kerajaan merupakan tindakan pengkhianatan di dalam istana dewaraja ini, dan hal itu menyebabkan Raja menjadi sangat murka.


Terbakar amarah dan kekecewaan, serta tanpa melakukan penyelidikan terlebih dahulu terhadap tuduhan tersebut, Raja memerintahkan Bendahara untuk menyingkirkan Hang Tuah dari Malaka, dengan kata lain membunuhnya. Namun Bendahara merupakan menteri yang bijaksana yang dapat melihat rencana jahat tersebut. Oleh karena itu, dia meminta agar terdakwa diperbolehkan pergi menuju Inderapura untuk meminta perlindungan di sana. Bendahara melakukan hal ini semata-mata untuk merencanakan beberapa cara untuk mengembalikan kepercayaan Raja kepada Hang Tuah. Dengan menggunakan perpaduan antara tipu-muslihat dan ramuan cinta, Hang Tuah mampu membawa pulang Tun Teja yang cantik untuk menemui Rajanya, serta mendapatkan kembali kepercayaan dan kemurahan hati Raja.


Para pembesar yang iri kemudian kembali merencanakan rencana jahat lain yang juga bernuansa percintaan lagi. Mereka menyatakan bahwa telah menyaksikan Hang Tuah memiliki hubungan gelap dengan wanita di Istana.


Hang Tuah dihukum mati lagi. Kali ini Bendahara menyembunyikannya di kebun buah-buahan miliknya, jauh dari pengawasan orang-orang Malaka. Hang Jebat kemudian ditunjuk menggantikan posisi Hang Tuah dan tak lama kemudian dia pun menjadi kesayangan Raja juga. Sementara itu, Jebat memanfaatkan kesempatan ini tidak hanya untuk meningkatkan martabatnya, namun juga untuk membalas kematian Tuah.


Jebat merebut istana beserta dayang-dayangnya, yang beberapa di antaranya merupakan kesayangan Raja. Di dalam istana feodal Melayu, hal ini dianggap sebagai sebuah pengkhianatan besar.


Raja memutuskan untuk meninggalkan istana yang ternoda tersebut. Dia merasa malu dan tak dihormati, sehingga dia menyesal telah membunuh Hang Tuah tanpa menyelidiki tuduhan pengecut dari para pembesar yang iri terlebih dahulu. Bendahara kembali menyelamatkan Raja dengan mengungkapkan bahwa dia tidak membunuh Tuah, namun menyembunyikannya di hulu Sungai Malaka. Maka Hang Tuah pun dipanggil pulang untuk menyingkirkan Jebat dari Malaka. Meskipun Jebat adalah teman dan sahabat terbaiknya, namun di mata Hang Tuah sekarang Jebat tidak lain merupakan seorang pengkhianat kerajaan. Inilah klimaks yang tragis dan menyedihkan dari cerita ini.


Ketika bertarung sebagai saudara dan teman, mereka mengetahui kewajiban mereka kepada Raja dan sahabat masing-masing, sehingga mereka berbicara, berdiskusi, dan berdebat. Di dalam benaknya, Tuah tahu bahwa dia harus membunuh Jebat. Namun Jebat juga tahu bahwa dia tidak akan terbunuh selama dia memiliki keris Taming Sari yang diberikan kepadanya setelah Hang Tuah dihukum mati. Oleh karena itu, untuk memperoleh keris itu kembali, Hang Tuah harus menipunya. Dia mencuri keris itu menggunakan cara yang kurang terhormat. Dengan memiliki keris itu, Hang Tuah dapat melukai Jebat dengan meninggalkannya berdarah-darah hingga mati. Dengan darah yang terus mengalir keluar, Jebat membunuh ribuan orang untuk membalas dendam terhadap Sultan dan takdirnya.


Pada klimaks cerita ini, orang Melayu harus memilih antara pencari keadilan yang setia dan tabah, dan pemberontak yang menginginkan keadilan. Di satu sisi, mereka berdua hanya mewakili dua sisi kepribadian dan karakter orang Melayu yang merupakan abdi yang setia serta pemberontak.


Setelah kematian Jebat yang tragis, Malaka menjadi stabil. Pedagang dan santri dari seluruh dunia menjejali pelabuhan itu. Berbagai isi dari istana lain diterima. Untuk membalas kunjungan diplomatik, maka Hang Tuah diangkat sebagai utusan ke istana Keling dan Cina.


.::Jilid I selesai::.


Sumber pustaka:


Salleh, Muhammad Haji. 2013. Hikayat Hang Tuah Jilid I. Jakarta: Ufuk Publishing House

Jumat, 11 Juli 2014

Hikayat Pelanduk Jenaka


Menurut Werndly di dalam buku Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik milik Liaw Yock Fang, hikayat Pelanduk Jenaka ini termasuk hikayat yang agak tua usianya. Disebutkan oleh Werndly sejak tahun 1736. Nah, menurut Van der Tuuk, kata ‘Jenaka’ atau ‘Jainaka’ ditafsirkan berasal dari kata Sansekerta ‘jainaka’, yaitu seorang pendeta agama Jaina yang selalu ditertawakan orang. Beda lagi pendapat C.A. Mess, yang pernah menerjemahkan hikayat ini ke dalam bahasa Belanda. Dia mengartikan bahwa kata ‘jinaka’ mungkin berarti keramat atau suci. Dia menunjukkan bahwa dalam Hikayat Pelanduk Jenaka yang diterbitkan oleh H.C. Klinkert pada tahun 1885, dimana si Pelanduk sering bertapa di bukit atau pungsu, dan tempat itu disebut pungsu jantaka atau pertapaan dan indrakila di tempat lain. Nah, sedangkan indrakila itu tidak lain dari tempat pertapaan Arjuna, dan katanya sih, Arjuna juga sering disebut Arjuna Janaka atau Jenaka. Banyak lagi pendapat dari sarjana-sarjana yang lain, namun penulis hanya menerangkan dua pendapat ahli di atas aja, ya. Mau lebih lengkapnya, silakan lihat buku Liaw Yock Fang. Hehehe

Hikayat ini tuh dulu dua kali pernah diterbitkan. Yang pertama di tahun 1885 dan yang kedua di tahun 1893. Yang menerbitkannya H.C. Klinkert, seorang sarjana Belanda. Dua terbitan tentang cerita pelanduk ini agak beda sih, soalnya yang terbitan pertama tuh ada 10 buah cerita, tapi yang kedua hanya ada 7 buah cerita. Tapi plotnya tetap sama.

Berikut ringkasan cerita dari kedua terbitan tersebut:



Diceritakan seekor Pelanduk yang kecil tetapi sangat cerdik, bisa menewaskan segala binatang dan menjadi Syah Alam di rimba. Mula-mula diceritakan bagaimana Pelanduk memperoleh kekuatannya; (diterbitan pertama, Pelanduk menggosok badan dengan getah dari pohon ara; terbitan kedua, Pelanduk berguling di dalam serbuk lalang). Seterusnya, Pelanduk diceritakan mampu mendamaikan Kambing dengan Harimau yang bermusuhan. Nama Pelanduk lalu semakin masyhur.

Binatang-binatang di rimba datang meminta bantuan karena gangguan seorang raksasa. Dengan tipu daya, raksasa itu dibunuh oleh Pelanduk. Semua binatang takluk kepada Pelanduk dan masing-masing membawa persembahan kepadanya. Namun, Kera tidak mau takluk dan ketika dikejar, ia meminta bantuan kepada Gajah, Singa, dan Buaya. Gajah, Singa, dan Buaya semuanya ditewaskan oleh Pelanduk. Akhirnya, untuk menghukum Kera, Pelanduk menipu Kera sehingga dia pergi menerjang sarang lebah. Kera pun disengat hingga bengkak-bengkak tubuhnya. Pelanduk kemudian mengumumkan bahwa barang siapa yang tidak mau tunduk kepadanya, pasti akan mendapatkan hukuman seperti yang didapat oleh Kera sekarang. Dan tetaplah si Pelanduk di atas singgasananya.


Nah, kan di terbitan 1885 ada 10 cerita, berikut 3 buah cerita yang terdapat di terbitan pertama dan tidak terdapat di terbitan kedua alias hikayat yang diterbitkan tahun 1893:

1. Pelanduk bertanding meminum air sungai dengan binatang

2. Pelanduk menangkap gergasi yang memakan ikan-ikan yang ditangkap oleh para binatang.

3. Pelanduk membakar Semut yang telah membunuh Gajah.

Akhirnya semua binatang tunduk kepada Pelanduk.

Nah, menurut J. Brandes, versi pendek alias versi 1893 lebih asli, lebih tua, dan lebih penting karena dari penjelasan di atas, plot terbitan 1893 lebih terpelihara daripada plot terbitan 1885. Pendapat J. Brandes juga telah disetujui oleh Winstedt yang menunjukkan bahwa juga ada pengaruh-pengaruh Jawa terdapat di dalam versi tersebut. 

Hikayat Pelanduk ini ternyata juga pernah diterbitkan dalam bentuk syair di Singapura pada tahun 1301 H, yaitu tahun 1883/84 Masehi. Syair ini menyerupai yang versi panjang alias terbitan 1885, tapi hanya mengandung 8 cerita saja.

Juga ada dua kumpulan cerita pelanduk yang diterjemahkan dari bahasa Jawa. Yang pertama diterjemahkan oleh Winter dan diberi judul: Riwayat dengan Segala Perihal Kancil, dengan gambaran 12 warna, dan tersalin dari bahasa Jawa. Yang kedua ialah Cerita Kancil yang Cerdik oleh Ng. Wirapustaka, terbitan Balai Pustaka.

Hikayat Sang Kancil sangat populer di Semenanjung Tanah Melayu, dan hikayat ini bersama-sama diterbitkan dengan Hikayat Pelanduk Jenaka Dengan Anak Memerang dengan judul Hikayat Pelanduk dalam Malay Literature Series 13.

Referensi:

Liaw Yock Fang. 2011. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: YOI

Rabu, 18 Juni 2014

Hikayat Sri Rama (Ramayana Versi Melayu)

Hikayat Sri Rama adalah bahasa Melayu untuk cerita Rama. Hikayat ini memiliki dua versi yang agak berbeda. Versi yang diterbitkan oleh Roorda Van Eysinga, dan versi yang diterbitkan oleh W. G. Shellabear. Versi Roorda diduga sebagai naskah yang tertua dalam bahasa Melayu, dan plotnya masih mendekati Ramayana Walmiki, meskipun memiliki banyak episode yang tidak terdapat dalam Walmiki. Sedangkan versi Shellabear sudah nampak pengaruh Islam yang kuat, dan sudah agak jauh menyimpang dari Ramayana Walmiki. Namun dari dua versi ini kita dapat menyusun cerita yang agak organis, yang mempunyai plot.
Dua versi ini dianggap versi sastra, karena masih ada dua versi yang dianggap cerita penglipur lara (rhapsodist version).

Berikut adalah ringkasan cerita Hikayat Sri Rama berdasarkan versi Roorda dan Shellabear.

Maharaja Rawana dibuang ke Bukit Serendib. Di bukit itu ia bertapa dengan cara yang paling hebat sekali, kakinya digantung, kepalanya ke bawah. Selama dua belas tahun ia bertapa. Tuhan lalu mengasihaninya dan mengirim Nabi Adam untuk menanyai apa kehendaknya. Rawana memohon empat kerajaan pada Tuhan; satu kerajaan dalam dunia, satu kerajaan pada keindraan, satu kerajaan di dalam bumi, dan satu lagi di dalam laut. Permohonan Rawana disetujui Tuhan dengan syarat bahwa Rawana harus memerintah dengan adil, jangan mengerjakan pekerjaan haram. Dalam naskah lain disebut juga, jangan mengganggu anak-istri orang.

                Di kerajaannya di keindraan, Rawana kawin dengan putri Nila Utama dan beranakkan Indra Jat. Genap dua belas tahun, Indra Jat dirajakan dalam keindraan. Di kerajaannya yang di bumi, Rawana kawin dengan putri Pertiwi Dewi dan beranakkan Patala Maharayan. Sesudah genap umur, Patala Maharayan dirajakan di bumi. Di kerajaannya yang di dalam laut, Rawana kawin dengan Gangga Maha Dewi dan beranakkan Gangga Maha Suri. Sesudah genap umur, anak ini dirajakan di dalam laut. Di dunia, Rawana membuat sebuah negeri yang sangat indah. Negeri itu ialah Langkapuri. Maka Rawana pun menjadi raja yang adil di Langkapuri. Semua kerajaan di dalam dunia takluk kepada hukumnya. Yang masih belum takluk hanya empat buah negeri saja, yaitu Indrapuri, Biruhasa, Lekor Katakina, dan Aspaha.

                Tersebutlah perkataan negeri Indrapuri. Berma Raja, nenek Rawana, sudah mangkat. Yang menjadi raja ialah Badanul, anaknya yang sulung. Sesudahnya Citra-Baha mempunyai tiga orang putra, seorang bernama Kamba Kama, seorang bernama (Vibhishana) Bibusanam, dan seorang lagi anak perempuan, Sura Pandaki namanya. Sesudah Citra-Baha, Naranda adik Jama Mantri, anak Badanul menjadi raja. Sesudahnya Mantri Sakhsah naik kerajaan.
               
                Maharaja Balikasa, raja Biruhasa Purwa, bersiap-siap untuk melanggar negeri Indrapuri, karena negerinya pernah dikalahkan oleh Citra-Baha dan ayahnya dibunuh oleh Citra-Baha juga. Seorang raksasa yang sakti dikirim ke negeri Indrapuri. Banyak rakyat dan menteri Indrapuri yang dibunuh oleh raksasa itu. Terjadilah peperangan antara Maharaja Balikasa dan Mantri Sakhsa. Rawana pun tetaplah dalam kerajaan di Langkapuri. Jama Mantri menjadi mangkubumi, Kamba Kama menjadi penghulu hulubalang, Bibusanam menjadi penghulu ahli nujumm, sastrawan dan alim mualim. Barga Singa, anak Rawana menjadi seorang menafahus (memeriksa, menguasai (?)) seluruh dunia (Cerita tentang masa muda Rawana ini hanya terdapat dalam versi Shellabear).

                Dasarata Maharaja, seorang raja yang gagah, pahlawan di negeri Isafa, tidak mempunyai putra. Atas nasihat seorang Brahmana baginda mengadakan upacara pemujaan Homam. Tidak lama kemudian kedua permaisuri baginda pun hamillah (Dalam Shellabear karena memakan biji geliga yang diberikan oleh seorang Brahmana). Mandudari, putri yang lahir dari buluh betung beranakkan Rama dan Laksmana. Baliadari, beranakkan Bardan, Citradan, dan seorang anak perempuan Kikewi Dewi namanya (Anak perempuan ini tak disebut dalam Shellabear).

                Sri Rama adalah seorang anak raja yang terlalu elok parasnya dan gagah berani, tetapi nakal. Karena kenakalannya itu, sekalian menteri lebih senang kalau anak Baliadari, Baradan atau Citradan yang dirajakan dalam negeri. Dasarata sendiri juga pernah dua kali berjanji akan merajakan anak-anak Baliadari dalam negeri, karena jasa-jasa gundiknya ini.

                Rawana mendengar bahwa Dasarata sudah memperistri seorang putri yang sangat elok parasnya. Timbul keinginan untuk memilikinya (putri itu). Rawana lalu datang dan meminta putri itu kepada Dasarata. Dasarata tidak keberatan. Mandudari segera diberitahu hal ini. Mandudari masuk ke suatu bilik. Tidak lama kemudian keluarlah seorang putri yang serupa dengan Mandudari, Mandudaki namanya. Putri itu lalu dibawa pulang oleh Rawana. Seketika itu juga keluarlah Mandudari dari biliknya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Putri yang dibawa Rawana bukanlah dirinya sendiri, melainkan putri yang dijadikannya dari memuja daki. Dasarata sangat gembira, sebab istrinya tetap ada. Di samping itu, ia meminta seorang perempuan tua membawanya ke istana Rawana. Pada malam hari ia meniduri putri itu dan dengan demikian menjadi ayah, dari anak Rawana.

                Setelah beberapa lamanya, Mandudaki pun hamillah dan melahirkan seorang putri yang sangat elok parasnya. Putri itu ialah Sita Dewi. Menurut ramalan ahli nujum, suami Sita Dewilah kelak yang akan membunuh Rawana. Rawana amat murka, mau rasanya membunuh Sita Dewi ketika itu juga. Atas rayuan Mandudaki, Sita Dewi ditaruh dalam peti besi dan dihanyutkan ke laut.

                Sekali peristiwa Maharesi Kali, raja negeri Darwati Purwa, bertapa di laut dan mendapatkan peti besi yang dihanyutkan oleh Rawana. Sita Dewi diselamatkannya dan dipelihara dengan baik. Tak lama kemudian, masyhurlah kepada segala alam bahwa Maharesi Kali mempunyai seorang putri yang sangat elok parasnya. Setelah umur Sita Dewi genap dua belas tahun, Maharesi Kali mengadakan sayembara untuk memilih menantu: barangsiapa yang dapat mengangkat panah yang ada di halaman rumahnya dan dapat pula memanah pohon lontar dengan sekali panah atas empat puluh pohon, dia akan diterima menjadi suami Sita Dewi.

                Banyaklah sudah anak raja yang besar-besar berkumpul di negeri Maharesi Kali. Yang tidak datang hanyalah anak-anak Dasarata. Maharesi lalu pergi menjemput anak-anak Dasarata. Dengan hati yang berat, Dasarata melepaskan Sri Rama dan Laksamana pergi mengikuti Maharesi Kali ke negeri Darwati Purwa. Dalam perjalanan, Rama sudah menunjukkan keberaniannya. Raksasa Jagina (Shellabear: Jekin), badak, naga (ular) yang selalu menggangu perjalanan manusia habis ditewaskannya.

                Sayembara dimulai. Tetapi tidak seorang pun anak raja yang dapat dengan sekali panah, menerusi empat puluh pohon lontar. Rawana sendiri hanya dapat menerusi tiga puluh delapan pohon saja (hanya dalam versi Roorda). Akhirnya dengan tenang Rama masuk ke dalam gelanggang sayembara. Dengan sekali panah saja, keempat puluh pohon lontar kenalah semuanya. Bukan main terkejutnya anak-anak raja yang berkumpul di situ. Dengan demikian Rama pun beroleh Sita Dewi sebagai istri.

                Untuk mencoba kearifan Rama, Maharesi Kali menyembunyikan Sita Dewi dalam rumah berhala pula. Ia mengatakan kepada Rama bahwa Sita sudah hilang. Dengan mudah saja, Rama menemukan Sita kembali. Dalam perjalanan pulang pula, ada empat orang anak raja yang putus asa mencoba menghalangi Rama. Tetapi semuanya dikalahkan oleh Rama.

                Segala persiapan sedang diadakan untuk menabalkan Rama dalam negeri.  Si Budak Bungkuk menghasut Baliadari menuntut Dasarata supaya menunaikan janjinya, yaitu menabalkan anak-anak Baliadari. Apa daya, kata raja tak dapat diubah, maka terpaksalah Dasarata mengabulkan permohonan Baliadari. Rama dan Sita, bersama-sama Laksamana lalu meninggalkan negeri dan pergi bertapa di dalam hutan.

                Maka berjalanlah Sri Rama dan Laksamana di dalam hutan belantara. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa orang Maharesi yag baik kepada mereka. Anggasa Dewa, Kikukan, dan Wirata Sakti menjamu mereka dan mengajak Sri Rama bertapa bersama-sama dengan mereka. Rama menolak dan meneruskan perjalanan hingga sampailah di bukit Indra Pawanam. Di sini ada seorang raksasa Purba Ita mencoba melarikan Sita. Raksasa itu dibunuh oleh Rama. Maka Rama pun membuat tempat pertapaan di bukit ini.

                Menurut Shellabear, sesudah mengalahkan keempat anak raja yang mencoba menghalanginya, Rama mengambil keputusan tak akan pulang ke negeri, karena ayahnya telah memilih Baradan sebagai pengganti raja. Rama dan Sita, bersama-sama dengan Laksamana lalu masuk ke hutan belantara, mencari tempat yang sesuai untuk bertapa. Mereka bertemu dengan seorang pertapa, Maharesi Astana namanya, yang memberitahu Laksamana tentang dua kolam aneh yang terdapat dalam hutan itu. Suatu kolam airnya jernih, tetapi barang siapa yang mandi di dalamnya akan menjadi kera. Sebuah lagi airnya keruh. Rama dan Sita mandi di kolam jernih dan mereka menjadi kera seketika itu juga. Untunglah ada Laksamana yang sempat menyelamatkan mereka. Sesudahnya, Rama pun menyuruh mengurut kerongkongan Sita Dewi yang segera memuntahkan maninya. Mani itu dibawa oleh Bayu Bata dan dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani yang sedang ternganga. Dewi Anjani bunting dan melahirkan Hanoman. Kemudian Rama bertapa dalam suatu tempat yang baik dalam hutan itu.

Rawana hendak menyerang matahari, karena sang matahari selalu menggangu kesenangannya. Sekembali dari usahanya yang sia-sia itu, dilihatnya kotanya dikawal oleh binatang semacam ular. Binatang itu ditetaknya. Kemudian ternyata yang ditetak itu bukanlah ular, melainkan lidah saudaranya, Berga Singa. Sura Pandaki takut anaknya dibunuh oleh Rawana, lalu membawa anaknya ke hutan dan menyuruhnya bertapa dalam buluh betung. Di dalam rumpun buluh inilah Dasra Singa terbunuh oleh Laksamana. Sura Pandaki sangat marah dan mau membalas dendam. Ia lalu mengubah dirinya sebagai seorang perempuan yang cantik dan mendekati Rama, dengan maksud menangkap Rama. Rama menolaknya, ketika ia menghampiri Laksamana, Laksamana mengerat hidungnya.

Saudaranya, Darkalah Sina, menyerang Rama, juga tidak berhasil. Sura Pandaki lalu menghasut Rawana menyerang Rama dan Laksamana. Dengan dua orang raksasa yang sakti, Rawana datang ke hutan pertapaan Rama. Seorang raksasa menjadikan diri sebagai kijang emas, seorang lagi sebagai kijang perak. Sita Dewi yang melihat kedua kijang itu tergerak hatinya hendak memiliki kedua-dua kijang tersebut, lalu meminta dengan sangat supaya Rama menangkap kijang-kijang itu hidup-hidup. Pergilah Rama menangkap kijang itu.

Tidak lama kemudian terdengar pula suara Rama meminta tolong. Sita mendesak Laksamana pergi menolong Rama. Ketika Laksamana menolak, Sita menuduh Laksamana. Dikatakannya bahwa Laksamana ingin memilikinya seandainya Rama mati. Oleh karena tuduhan itu, maka terpaksalah Laksamana pergi. Sebelum ia pergi, ia menggores tanah dengan telunjuknya. Maksudnya, barang siapa yang melangkahi goresan itu akan kena tangkap.

Kemudian muncullah Rawana sebagai seorang Brahmana yang miskin, dan meminta sedekah dari Sita. Sita yang tidak tahu apa-apa telah keluar dari goresan itu untuk memberi sedekah kepada Brahmana palsu itu. Dengan seketika itu juga Sita dilarikan Rawana. Burung Jentayu berusaha menolong Sita. Tetapi tidak berhasil, malah dirinya sendiri terbunuh.

Ketika Rama dan Laksamana kembali, mereka bukan main kaget. Didapati mereka Sita sudah hilang. Rama rebah dan jatuh di tempat duduk Sita sampai beberapa hari tidak sadarkan diri. Sesudah Rama sadar kembali, mereka lalu pergi mencari Sita.

Mula-mula mereka bertemu dengan kakak burung Jentayu yang memberitahu mereka bahwa Sita sudah diculik oleh Rawana. Kemudian mereka bertemu dengan Sugriwa yang diusir dari kerajaan oleh saudaranya Balya. Rama dan Laksamana menolong Sugriwa merebut kerajaan kembali. Sebelum meninggal, Balya meminta Rama menjaga istri dan kedua orang anaknya yang masing-masing bernama Anggada dan Anila. Balya memberitahu Rama bahwa yang dapat menolong Rama merebut Sita kembali ialah anak saudaranya yang bernama Hanoman.

Setelah berpisah dengan Rama dan mendengar pula Rama kehilangan istrinya, Mandudari sangat sedih dan wafat (Shellabear: Dasarata yang wafat). Beradan dan Citradan pergi mencari Rama dan meminta Rama kembali menjadi raja dalam negeri. Rama menolak dan bersedia memberikan kaus kepada saudaranya. Kiasnya, Ramalah yang menjadi raja dalam negeri.

Sugriwa mengumpulkan semua rakyat keranya. Tetapi tidak ada satu pun yang sanggup melompat ke Pulau Langka. Hanoman sanggup melakukan tugas itu asal dibenarkan makan sehelai daun dengan Rama. Rama tidak keberatan makan sehelai daun dengan Hanoman, asal Hanoman mandi di laut dulu. Sesudah makan, Rama memberikan sebentuk cincin kepada Hanoman untuk dibawa kepada Sita Dewi sebagai tanda.

Hanoman menyamar sebagai seorang Maharesi dan menemui Sita Dewi di istana Rawana. Hanoman menceritakan asal-usulnya dan Sita mengakuinya sebagai anaknya. Kemudian Hanoman memakan habis buah mempelam yang di dalam istana. Karena hal ini, dia ditangkap dan mau dibakar. Tetapi Hanoman melompat ke sana-sini, menyebabkan kebakaran yang besar. Hanoman juga mau membawa Sita Dewi ke tempat Rama. Sita Dewi menolak. Pertama, karena ia tidak mau dijamah oleh laki-laki lain melainkan Rama; kedua, karena ia mau kehormatan menyelamatkannya diberikan kepada Rama.

Sementara itu, pembangunan jembatan (titian) hampir selesai. Gangga Mahasura, anak Rawana, berusaha membinasakan titian itu. Tetapi semua ikan dan ketam yang dikirimkan untuk melaksanakan tugas itu, habis dibinasakan Hanoman. Rawana mulai gentar dan berunding dengan saudara dan menteri-menterinya tentang serangan Rama yang bakal datang itu. Bibusanam, menteri yang tua, mengusulkan supaya Sita dikembalikan kepada Rama. Rawana marah dan mau membunuh Bibusanam yang terpaksa melarikan diri dan menyerah kepada Rama. Anak-anak Rawana, Indra Jat dan Kumbakarna juga menganjurkan supaya Sita dikembalikan saja. Rawana tetap berkeras. Akhirnya peperangan pun berlangsung. Anak-anak Rawana satu demi satu gugur di medan perang. Mula-mula Buta Bisa, kemudian Patala Maharayan, kemudian Indra Jat dan akhirnya Mula Patani. Selepas itu keluarlah Rawana sendiri. Sesudah peperangan sengit, berpanah-panahan, akhirnya Rawana tewas juga. Dengan demikian berakhirlah peperangan antara Rama dengan Rawana.

Masuklah Rama ke dalam kota Langkapuri. Rama tidak mau menerima Sita kembali, takut kalau-kalau Sita sudah diperkosa oleh Rawana. Sita membuktikan kesuciannya dengan duduk di dalam api yang menyala. Akhirnya berkumpullah Rama dan Sita kembali. Banyaklah anak raja yang besar-besar datang mengunjungi Rama di Langkapuri. Demikian juga saudara-saudara Rama yang bernama Beradan dan Citradan.

Maharesi Kala juga datang dan menceritakan asal-usul Sita. Tahulah Sita, Mandudaki adalah ibunya, dan Rawana ayahnya sendiri. Tidak lama kemudian, Rama membuat negeri di atas bukit. Negeri itu ialah Durja Pura Negara.

Sesudah makan obat yang diberikan Maharesi Kala, Sita pun hamil. Semasa Sita hamil, Kikewi Dewi, saudara perempuan Rama, datang pada Sita dan meminta Sita melukiskan rupa Rawana di atas kipas. Kipas itu kemudian didapati oleh Rama. Kikewi berbohong dan berkata Sitalah yang melukis kipas itu dan dibawanya beradu. Rama marah dan mengusir Sita dari istana. Maka pergilah Sita ke tempat Maharesi Kala. Sebelum berangkat Sita bersumpah, barang siapa yang berkata bohong, dia takkan dapat berkata-kata lagi. Dan kalau ia benar, sesudah ia kelua dari negeri, binatang-binatang akan berada dalam dukacita.

Di tempat Maharesi Kala, Sita melahirkan seorang anak, Tilawi (Shellabear: Lawa) namanya. Sekali peristiwa, Maharesi Kala membawa Tilawi berjalan-jalan. Tilawi tersesat jalan dan kembali sendiri ke tempat ibunya. Maharesi Kala takut kalau-kalau Tilawi sudah hilang, lalu memuja lalang. Dengan seketika terjadilah seorang anak laki-laki yang mirip dengan Tiwali. Anak tersebut diberi nama Kusa. Sesudah besar, Tiwali dan Kusa jadi anak muda yang gagah berani. Banyak raksasa yang mereka bunuh.

Sesudah beberapa lama, Rama pun sadar akan kesalahannya dan meminta Sita kembali. Setelah Sita Dewi pulang, segala margasatwa pun berbunyi kembali dan Kikewi Dewi datang meminta ampun kepada Sita. Tilawi dikawinkan dengan Putri Indra Kusuma Dewi, anak Indra Jat, dan dirajakan di dalam negeri Durja Pura. Kusa dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi, anak Gangga Mahasura, dan dirajakan di dalam negeri Langkapuri.

Setelah beberapa lama, Rama membuat negeri di tempat orang bertapa. Negeri itu dinamai Ayodhya Pura Negara. Sesudah empat puluh tahun lamanya hidup bersuka-suka dengan Sita dalam pertapaan, maka Sri Rama pun kembalilah dari negeri yang fana ke negeri yang baka.

Demikianlah cerita Hikayat Sri Rama, menurut naskah Roorda dan Shellabear.

Referensi:

Liaw Yock Fang. 2011. Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik. Jakarta: YOI